Peringatan Hari Jadi (Hadeging) Kalurahan Ngargosari ke-79 yang diselenggarakan pada 31 Januari hingga 2 Februari 2026, bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah tonggak sejarah yang menghidupkan kembali memori kolektif warga melalui tema filosofis "Harga Karya Sarining Puja". Rangkaian kegiatan dibuka dengan nuansa spiritual yang kental melalui ziarah makam leluhur dan Malam Tirakatan lintas agama, di mana ratusan warga tetap khidmat memanjatkan doa meski di bawah guyuran hujan deras yang dimaknai sebagai berkah kesuburan. Atmosfer historis semakin terasa pada hari kedua lewat prosesi sakral "Panggih" di Padukuhan Trayu (Joyowiranan), sebuah reka ulang peristiwa "Blengketan" atau penyatuan dua wilayah lama, Ngaliyan dan Ngargowahono. Di lokasi bersejarah inilah, tujuh mata air dari kedua wilayah disatukan dalam satu wadah, menjadi simbol visual yang kuat bahwa meski berbeda asal-usul, seluruh elemen masyarakat kini telah manunggal dalam satu nadi kehidupan Kalurahan Ngargosari yang harmonis.
Puncak kemeriahan peringatan tercermin dalam gelaran Kirab Ageng dan Upacara Hari Jadi di Lapangan Kalurahan Ngargosari yang berlangsung megah, melibatkan Paragara Bregada dari 11 Padukuhan yang menampilkan potensi terbaiknya. Momen ini menjadi sangat monumental dengan kehadiran Bupati Kulon Progo, Bapak Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., beserta jajaran DPRD dan Dinas terkait yang memberikan dukungan penuh. Dalam kesempatan istimewa tersebut, Bupati Kulon Progo secara resmi melakukan penandatanganan prasasti "Tetenger Blengketan", sebuah simbol legitimasi sejarah sekaligus wujud apresiasi Pemerintah Kabupaten terhadap komitmen pelestarian budaya di Ngargosari. Beliau menekankan pentingnya merawat tradisi ini sebagai aset daerah yang tak ternilai. Prosesi upacara kemudian dipungkasi dengan tradisi Ngepung Gunungan Jodang, sebuah pesta rakyat yang menggambarkan kemakmuran, rasa syukur, serta kedekatan tanpa sekat antara pemimpin dan masyarakatnya dalam menikmati hasil bumi.
Semangat perayaan ini disempurnakan oleh maraton pertunjukan seni budaya yang menjadi panggung bagi "Generasi Emas" Ngargosari, mulai dari siswa PAUD hingga SMA, serta kelompok kesenian unggulan seperti Jathilan Incling Krida Atmaja (Canden), Angguk Putri Sabdo Lestari (Ngaliyan), Jathilan Kridho Budoyo (Trayu), hingga penampilan pamungkas yang memukau dari Topeng Ireng Putra Arga Rimba (Tritis). Menutup seluruh rangkaian acara, Lurah Ngargosari, Bapak Lobertus Kiswanto, S.E., menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para sponsor, donatur, serta seluruh warga yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Meskipun cuaca hujan mewarnai hampir seluruh rangkaian kegiatan, keteguhan dan antusiasme warga yang tak surut menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan cinta desa benar-benar hidup dan mengakar kuat di hati masyarakat Ngargosari.